apa itu definisi dan konsep kulit ekologis

Kulit ekologis, juga dikenal sebagai kulit sintetis atau leatherette, memiliki tekstur yang mirip dengan yang diperoleh dari sapi atau hewan lain. Itu adalah produk yang bahan bakunya tidak diperoleh dengan cara tradisional, seperti yang sudah dilakukan ribuan tahun.

Proses elaborasi

Kulit ekologis dibuat dari bahan plasticizer yang dimasukkan ke dalam mesin pencampur. Kemudian penstabil sinar ultraviolet ditambahkan untuk membuat bahan tahan terhadap sinar matahari. Langkah selanjutnya adalah memasukkan larutan tahan api sehingga dapat menahan api. Sebuah mesin mencampur zat-zat ini dan, secara paralel, bubuk vinil ditambahkan sampai campuran yang konsisten tercapai.

Di sisi lain, dalam pencampur yang berbeda beberapa pewarna disatukan untuk mendapatkan nada yang diinginkan. Isi dari dua wadah pencampur digabungkan dan gulungan kertas besar dengan tekstur seperti kulit dituangkan di atas bahan yang telah dibentuk sehingga lengan mekanik membuka campuran di atas kertas.

Setelah dilapisi dengan vinil, kertas ditempatkan dalam oven untuk mengeras teksturnya. Selanjutnya kertas mengalami proses penebalan untuk memberikan bentuk, konsistensi dan tekstur kain.

Melalui prosedur ini, kulit sintetis siap dibuat dengan desain tertentu (seperti jaket, tas, atau sepatu). Jenis kainnya sangat tahan dan sekilas terlihat seperti bahan kulit tradisional.

Label eco-leather patut dipertanyakan

Proses pembuatan yang dijelaskan di atas menunjukkan bahwa ini bukan kulit ekologis atau alami, tetapi label ini digunakan dengan beberapa ambiguitas. Di satu sisi, ini adalah produk ekologis karena kehidupan hewan dihormati. Namun nilai ekologisnya relatif, karena proses pembuatan dan bahan yang digunakan khas industri tekstil konvensional.

Di sisi lain, harus diperhatikan bahwa kulit ekologis atau leatherette adalah jenis plastik dan bahan ini bukanlah contoh yang baik untuk bahan ekologi. Dengan cara ini, beberapa orang mengklaim bahwa nama kulit ekologis tidak tepat dan itu murni strategi komersial.

Perbedaan antara kulit asal hewan dan "ekologis"

Perbedaan utamanya adalah harga yang lebih tinggi pada kulit tradisional. Di sisi lain, yang asli memiliki tekstur yang lebih lembut. Elemen pembeda lainnya adalah baunya, karena satu kulit berbau seperti kulit dan yang lainnya berbau plastik.

Bagi sebagian orang, membeli pakaian sintetis atau asli bukanlah soal harga atau tekstur, melainkan pilihan yang terkait dengan menghormati hewan.

Foto: Fotolia - pengrajin / afitz