definisi menjadi

Konsep menjadi memiliki arti yang berbeda. Pertama-tama, ini identik dengan menjadi sesuatu atau menjadi dan digunakan sebagai pemujaan (misalnya, keinginan terbesarnya adalah menjadi ilmuwan NASA). Di sisi lain, menjadi setara dengan terjadi atau terjadi dan terkait dengan perjalanan waktu dan konsekuensinya (jalannya peristiwa membuatnya mengundurkan diri dari posisinya sebagai politisi). Akhirnya, menjadi adalah konsep filsafat.

Menjadi sebagai masalah filosofis

Gagasan menjadi mengacu pada proses di mana sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dalam pengertian ini, dalam metafisika apa yang tidak berubah dikenal sebagai makhluk dan, sebaliknya, ada yang berubah, yaitu apa yang menjadi sesuatu yang lain. Ini menyiratkan bahwa menjadi sebagai ide mengungkapkan berbagai cara untuk menjadi sesuatu.

Dalam filsafat kita berbicara tentang masalah menjadi, yang setara dengan masalah perubahan. Dengan kata lain, filsafat mencari penjelasan yang memungkinkan kita memahami mengapa sesuatu berubah, yang terkadang disebut prinsip perubahan.

Para filsuf Ionia menganggap perlu memahami apa yang tersisa di dalam apa yang berubah, apa yang menjadi. Orang Pythagoras memahami bahwa perubahan dan keberagaman penjelmaan dapat diekspresikan melalui matematika. Heraclitus mengidentifikasikan realitas dengan penjadian, karena segala sesuatu berubah dan tidak ada yang tersisa.

Sebaliknya, Parmenides mengatakan bahwa perubahan itu nyata, karena gagasan menjadi rasional menyiratkan tidak adanya perubahan (jika sesuatu berhenti secara logis, itu bukan dan apa yang bukan tidak ada artinya). Masalah menjadi sebagai pertanyaan filosofis telah melintasi sejarah pemikiran dari Yunani hingga saat ini.

Saat ini masalah menjadi terus diperdebatkan. Ada filsuf yang berpendapat bahwa memahami menjadi sama dengan memahami kehidupan itu sendiri. Dalam pengertian ini, segala sesuatu manusia ditransformasikan dan diubah, yang berarti bahwa segala sesuatu tunduk pada keberadaan: keberadaan manusia, sejarah, bahasa, budaya, atau gagasan.

Kita dapat mengatakan bahwa ada dua dimensi penjadian, dimensi material (perubahan fisik yang mempengaruhi individu) dan dimensi spiritual (misalnya, perubahan internal yang bersifat mental atau intelektual). Dalam beberapa hal, manusia tidak dapat mengabaikan masalah penjelmaan, karena semua realitas terkait dengan gagasan tentang waktu.

Menjadi dan dialektika

Gagasan menjadi filsafat memiliki hubungan langsung dengan gagasan dialektika, sebuah konsep kunci dalam sejarah pemikiran. Menjadi dan dialektika adalah gagasan yang memungkinkan kita memahami perubahan dan transformasi yang mempengaruhi manusia (misalnya, pemahaman dialektis tentang sejarah).

Foto: iStock - choja / poba